Warga Sei Bamban Gelar Ritual Tolak Bala

Warga Desa Adat Sei Bamban, Kedatukan Besitang, Kabupaten Langkat yang dipandu Radim sebagai ketua kampung, bersama beberapa warga melakukan upacara ritual untuk memohon agar dijauhkan dari mara bahaya atau biasa disebut ritual tolak bala.

Upacara yang digelar di gubuk salah seorang warga tersebut, berlangsung pada minggu (8/12) malam. Suhermanto (57) sebagai tuan rumah menghaturkan permohonan maaf atas kekhilafan yang dilakukannya selama ini, baik kepada manusia dan kepada makhluk sekalian alam, yakni penguni hutan adat Sekundur.

Sebagai pembuka, Radim merapalkan mantra berkomunikasi kepada penghuni ghaib hutan Sekundur. Mulut Radim terlihat komat-kamit dengan mata sesekali terpejam.

Di tengah temaram lampu batre, warga yang menyaksikan diam terpaku menunggu proses ritual berlangsung. Mendadak cemeti yang merupakan media ritual bergerak sendiri secara perlahan seiring doa dan pengakuan dosa yang diucapkan Suhermanto.

Ritual berakhir setelah cemeti dipecutkan di tanah sebagai simbol menolak bala (mara bahaya). Suaranya menggelegar membuat anjing peliharaan Suhermato melolong keras.

Dalam sesi doa bersama, Hidayat sebagai  juru bicara Kedatukan Besitang, memohon pengampunan dan perlindungan kepada Allah SWT. Dalam doanya dia meminta agar masyarakat diberi kesabaran dalam membina persatuan dan kekompakan antar sesama warga.

Acara ritual tolak bala diakhiri dengan makan bersama berupa nasi rasul dan ayam ingkung.

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan